Home / Berita Umum / KPAI Menyayangkan Sikap Desa Nainggolan Mengucilkan Tiga Anak Pnghidap HIV

KPAI Menyayangkan Sikap Desa Nainggolan Mengucilkan Tiga Anak Pnghidap HIV

KPAI Menyayangkan Sikap Desa Nainggolan Mengucilkan Tiga Anak Pnghidap HIV – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan sikap masyarakat Desa Nainggolan, Samosir, Sumatera Utara, yang mengucilkan 3 anak pengidap HIV. KPAI memandang sikap itu sudah melanggar hak anak serta hak asasi manusia (HAM).

“KPAI begitu menyayangkan sikap Pemerintah Kabupaten Samosir serta deretan organisasi piranti daerah (OPD) berkaitan, dan penduduk yang tidak membuat perlindungan ke-3 anak korban. Tapi justru lakukan diskriminasi, memberhentikan dari sekolahnya serta bahkan juga akan di kucilkan lewat cara diletakkan di rimba Parlilitan. Perihal ini adalah pelanggaran pada hak anak serta HAM, serta begitu tidak manusiawi,” kata Komisioner KPAI Bagian Pendidikan, Retno Listyarti, dalam keterangannya, Kamis (25/10/2018).

KPAI ikut menyentuh masalah hasil rapat pengaturan pada Wakil Bupati Samosir bersama OPD. Dimana, hasil rapat itu akan memutuskan untuk memberi pendidikan homeschooling pada 3 anak itu.

“Meneruskan pendidikan homeschooling ialah kebijaksanaan yang tidak pas serta punya potensi kuat melanggar hak-hak anak. Kemungkinan, pengusul homeschooling tidak mengerti jika skema ini memerlukan pendampingan serta peranan orangtua, sesaat anak-anak ini tidak mempunyai orang-tua,” tutur Retno.

Menurut Retno, ketetapan memberi pendidikan homeschooling tidak pas sebab ke-3 anak itu tidak mempunyai orangtua. Ditambah lagi tentang gagasan untuk mengasingkan ke-3 anak itu di rimba.

Karenanya, KPAI menggerakkan Kemendikbud RI, Pemprov Sumatera Utara, Pemkab Samosir, serta penduduk membuat perlindungan dan penuhi hak-hak basic ke-3 anak itu. Hal tersebut ditata dalam masalah 9 angka 1 huruf a, masalah 59 huruf g, serta masalah 76 huruf a UU RI No. 35 Tahun 2014 Mengenai Pergantian Atas UU No. 23 Tahun 2002 Mengenai Perlindungan Anak.

“Tempatkan anak di rimba serta keluarkan dari sekolah adalah bentuk kekerasan pada anak yang akan berefek berat pada psikologis serta berefek pada keadaan kesehatan ke-3 anak korban. Karena itu, KPAI menggerakkan serta minta negara mesti ada serta selekasnya penuhi semua hak-hak ke-3 anak korban untuk kebutuhan terunggul buat anak,” kata Retno.

Awal mulanya, sekitar 3 anak yang menderita HIV di Samosir, Sumatera Utara tidak diterima oleh orangtua siswa lainnya di sekolahnya. Bupati Samosir, Rapidin Simbolon, tawarkan jalan keluar buat anak-anak itu.

Rapidin menjelaskan 3 anak itu sebetulnya bukan asli Samosir tetapi datang dari Balige, 2 salah satunya adalah siswa SD sesaat 1 orang yang lain baru akan masuk PAUD. Ketiganya yatim piatu.

“Jadi ada sekumpulan orang-tua dalam tempat mereka belajar yang tidak sepakat anak-anaknya dikombinasi dengan mereka yang terkena AIDS. Mereka mengatakan ke kepsek, jika 3 anak masih tetap disana, maka orang-tua akan menarik anak-anak dari sekolah itu,” kata Rapidin waktu dihubungi, Kamis (25/10).

About admin